Tuesday, August 10, 2010

KEUTAMAAN MENGHIDUPKAN SUNNAH

Lafadh sunnah dalam syariat adalah semua ajaran Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Apakah masalah aqidah, amaliyah yang wajib ataupun yang sunnat (untuk melihat pembahasan yang lebih detail, silahkan baca Dlaruratul Ihtimam bis-Sunnah hal. 19- 33).

Menghidupkan sunnah adalah dengan mempelajari, mengamalkan, dan menyampaikannya kepada umat. Ini memiliki keutamaan-keutamaan dan faidah- faidah yang sangat besar.

Di antaranya:

1. Dicintai Allah Subhanahu wa Ta'ala:

Artinya: "Katakanlah, jika kalian benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku. niscaya Allah akan mencintai dan mengampuni dosa-dosa kalian dan Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayang." (QS.ali Imran:31)

Dalam ayat ini Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk menyampaikan bahwa bukti kecintaan seorang hamba kepada Allah adalah mengikuti sunnah nabawi, dan menyampaikan bahwa keutamaan mengikuti sunnah nabawi adalah DICINTAI ALLAH dan DIAMPUNI dosa-dosanya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadits qudsi:

Sesungguhnya Allah berfirman: Barangsiapa memusuhi wali-Ku maka akan aku umumkan perang terhadapnya. Dan tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa yang Aku wajibkan kepadanya. Dan tetap hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan NAWAFIL (yang sunat-sunat) hingga Aku mencintainya. Maka jika Aku telah mencintainya maka Aku-lah pendengarannya yang dia pakai untuk mendengar, pandangannya yang dia pakai untuk memandang, tangannya yang dia pakai untuk memukul, dan kakinya yang dia pakai untuk berjalan. Kalau dia meminta kepada-Ku pasti akan Aku beri dan kalau meminta perlindungan kepada-Ku pasti akan Aku lindungi." (HR. Bukhari)

Hadits ini merupakan dalil bahwa perkara-perkara sunnat merupakan penyebab kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Kalau Allah sudah cinta, maka Dia akan memberikan taufiq kepadanya dalam menggunakan anggota badannya sesuai dengan apa yang Allah kehendaki serta pasti Dia akan mengabulkan doanya dan melindunginya.

2. Mendapatkan pahala lima puluh kali para shahabat

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Sesungguhnya di belakang kalian ada "hari-hari sabar" bagi orang-orang yang berpegang pada hari tersebut dengan apa yang kalian ada di atasnya, akan mendapatkan pahala lima puluh kali pahala kalian." Mereka berkata: "Wahai Rasulullah, tidakkah lima puluh kali mereka?" Beliau bersabda: "Bahkan lima puluh kali (pahala) kalian." (HR. Tirmidzi dan yang lainnya)

Dalam riwayat yang lain Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari yang kesabaran padanya (pada hari itu, pent) seperti memegang bara api. Orang yang beramal padanya seperti pahala lima puluh orang yang beramal seperti amalan kalian." (HR. Abu Dawud dalam 'Aunul Ma'bud 11/493, Ibnu Majah 2/1330, Ibnu Hibban dalam Al-Ihsan 2/108, Al-Hakim dalam Mustadrak 4/322. Beliau berkata: 'Sanadnya shahih', tidak dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dan disepakati oleh Imam Dzahabi. Demikian dikatakan oleh Abdus Salam bin Barjas dalam Dlaruratul Ihtimam hal. 49)

Berkatalah Ibnul Qayyim dalam Nuniyyahnya:

"Ini bagi para pemegang sunnah,
orang pilihan ketika rusaknya jaman,
pahala yang besar, tidaklah menetapkan ukuran,
kecuali yang memberinya kepada insan,"


(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan, dan juga oleh Ahmad Asy-Syaiban. Riwayat yang berisi tentang pahala lima puluh shahabat Rasul, utusan Allah yang Maha Rahman. (Syarah Ibnu 'Isa lin Nuniyyah 2/458, lihat Dlaruratul Ihtimam hal. 49-50))

Demikianlah keutamaan yang sangat besar bagi para pemegang sunnah khususnya di kala rusaknya zaman dan dijauhinya sunnah.

3. Memegang sunnah merupakan keselamatan

Berkata Ibnu Abbas radliallahu 'anhu:

"Tidaklah muncul pada manusia satu tahun kecuali mereka mengada-adakan bid'ah dan mematikan padanya satu sunnah hingga hiduplah bid'ah dan matilah sunnah." (Riwayat Ibnu Wadhah dalam Al-Bida' wan Nahi 'Anha, lihat Dlaruratul Ihtimam, hal. 52).

Abu Muhammad Abdullah bin Munazzil rahimahullah:

'Tidaklah seseorang melalaikan kewajiban-kewajiban, kecuali pasti dia terfitnah dengan melalaikan sunnah-sunnah. Dan tidaklah dia melalaikan sunnah-sunnah kecuali mesti sebentar lagi dia akan terfitnah dengan bid'ah-bid'ah.'

Dan lain-lain dari ucapan para ulama yang menjelaskan bahwa jika kita meninggalkan sunnah, maka akan terancam dengan bahaya bid'ah. Sebaliknya berpengang dengan sunnah merupakan keselamatan.

Oleh karena itu berkata para salafus shalih sebagaimana dinukil oleh Imam Asy- Syathibi dalam Al-I'tisham:

'Berpegang dengan sunnah adalah keselamatan.'

Ucapan mereka ini sesuai dengan hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang menjelaskan ketika terjadi fitnah perpecahan:

"Sesungguhnya barangsiapa yang hidup di antara kalian nanti, akan melihat perselisihan yang banyak. Maka atas kalian untuk berpengang dengan sunnahku..." (HR. Ashabus Sunan kecuali Nasa`i, berkata Tirmidzi: Hadits ini hasan shahih, dan berkata Imam Hakim: hadits ini shahih dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Demikian dalam Dlaruratul Ihtimam, hal. 37)

Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa keselamatan di kala perpecahan adalah dengan berpegang kepada sunnah.

4. Mendapatkan pahala sunnah dan pahala orang yang mengikutinya.

Bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

"Barangsiapa menjalankan satu sunnah yang baik dalam Islam, maka baginya pahala dan pahala orang yang beramal dengannya setelahnya (mengikutinya, pent) tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun..." (HR. Muslim 2/704)

Demikianlah keutamaan-keutamaan seorang yang memegang sunnah dan sebenarnya masih banyak lagi keutamaan-keutamaan yang lain bagi para pemegang sunnah khususnya di kala jauhnya umat dari Islam dan sunnah.

Wallahu A'lam

Maraji':

1. Al-Hujjaj Al-Qawiyyah, Abdus Salam bin Barjas.
2. Iqtidla` As-Shirath Al-Mustaqim, Ibnu Taimiyyah.
3. Aqidatus Salaf Ash-habul Hadits, Abu Utsman Ash-Shabuni.
4. Sallus Suyuf wal Asinnah 'ala Ahlil Ahwa`, Tsaqil bin Shalfiq Al-Qashimi.
5. Al-I'tisham, Asy-Syathibi.
6. Jama'ah Wahidah, Syaikh Rabi' bin Hadi Al-Madkhali.
7. Manhaj Al-Anbiya`, Syaikh Rabi' bin Hadi Al-Madkhali.
8. Minhajus Sunnah, Ibnu Taimiyyah.
9. Al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah.
10. Al-'Aqlaniyyun, Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdil Hamid.
11. Dlaruratul Ihtimam bis Sunnah, Abdus Salam bin Barjas.
12. Dasar-dasar Islam, Al-Maududi.

Dari : Majalah Salafy edisi XIII, Sya'ban – Ramadhan 1417 H

Sumber: Ebook compiled by Akhukum Fillah La Adri At Tilmidz

Pengagungan Kepada Sunnah dan Wajib Mengamalkannya

Mukaddimah

Sunnah, ditinjau dari segi bahasa bermakna ath Thariq (jalan) dan as Sirah (perjalanan hidup). Adapun menurut istilah syari’at sunnah adalah semua perkara yang bersumber dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam selain dari Al Qur’anul karim baik berupa ucapan, perbuatan, ataupun taqrir (pembenaran sikap beliau) dari hal-hal yang memiliki dalil secara syar’i.

Inilah sunnah yang kita maksud dalam pembahasan ini, bukan sunah dalam artian hukum fiqih, yaitu sesuatu yang jika dikerjakan akan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan tidak apa-apa.

Kalimat sunnah lebih luas maknanya dari pada itu. Segala sesuatu yang diperintahkan, diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dinamakan sunnah. Dengan kata lain sunnah adalah ajaran nabi. Jika kita ditanya apa hukumya mengikuti ajaran nabi, niscaya semua kaum muslimin akan menjawab wajib. Dan sebaliknya, barangsiapa yang mengingkari ajaran Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam maka dia kafir.

Firman Allah Tabaroka wata’ala :

Artinya: "Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." (QS.al-Hasyr:7)

Dengan ayat ini Allah Subhanahu wata'ala mewajibkan kepada manusia agar mentaati perintah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan menjauhi larangan-larangannya.

Barangsiapa yang mentaati Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam berarti dia mentaati perintah Allah.

Dan barangsiapa yang tidak mentaatinya berarti dia tidak mentaati perintah Allah. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam ayat lain:

Artinya: "Barangsiapa yang menta'ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta'ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta'atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka."(QS.an-Nisa’:80)

Ayat-ayat yang menunjukkan wajibnya taat kepada Rasululullah Shalallahu ‘alaihi wassalam sangat banyak, diantaranya:

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian." (QS.an-Nisa’:59)

Artinya: "Katakanlah: "Ta'atlah kepada Allah dan ta'atlah kepada rasul..." (QS.an-Nuur:54)

Artinya: "Katakanlah: "Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." ِِِDan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS.ali Imran:31)

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kalian merusak (pahala) amal-amalmu." (QS.Muhammad:33)

(Dikutip dari Bulletin Dakwah Manhaj Salaf edisi 10/Tahun I tgl 14 November 2003, penulis Ustadz Muhammad Umar As Sewed, judul asli "Wajibnya Mengamalkan Sunnah".)

Sumber: Ebook compiled by Akhukum Fillah La Adri At Tilmidz

Ancaman Bagi Penolak Sunnah

Karena telah tegas dan jelasnya dalil-dalil serta banyaknya ayat yang menunjukkan wajibnya mentaati Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. Maka Allah mengancam orang-orang yang bermaksiat atau tidak mau taat kepadanya dengan neraka jahannam.

Artinya: "Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya." (QS.al-Jin:23)

Bahkan Allah juga mengancam orang-orang yang menyelisihi perintah rasul dengan fitnah kekufuran dan kesesatan di samping adzab yang pedih dalam ucapan-Nya:

Artinya: "Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali." (QS.an-Nisa’:115)

Artinya: "maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa fitnah (kekafiran) atau ditimpa azab yang pedih." (QS.an-Nuur:63)

Artinya: "Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata." (QS.al-Ahzab:36)

(Dikutip dari Bulletin Dakwah Manhaj Salaf edisi 10/Tahun I tgl 14 November 2003, penulis Ustadz Muhammad Umar As Sewed, judul asli "Wajibnya Mengamalkan Sunnah".)

Sumber: Ebook compiled by Akhukum Fillah La Adri At Tilmidz

Mengikuti Sunnah Dapat Hidayah

Sebaliknya dengan mengikuti dan mentaati petunjuk Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam kita akan mendapatkan hidayah. Allah berfirman:

Artinya: "...Dan jika kamu ta'at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk..." (QS.an-Nuur:54)

Yang demikian, dikarenakan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam merupakan teladan dalam menerapkan al-Qur’an. Dengan kata lain beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam adalah al-Qur’an yang berjalan atau terjemahan al-Qur’an dalam kehidupan. Ketika Aisyah ditanya tentang perilaku dan akhlaq Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, maka beliau menjawab:

"Bahwasanya Akhlaq Nabiyullah adalah al-Quran." (HR. Muslim)

Untuk itu barangsiapa yang ingin menerapkan al-Qur’an dalam kehidupannya, maka ikutilah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dalam segala sisi kehidupannya.

Artinya: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS.al-Ahzab:21)

(Dikutip dari Bulletin Dakwah Manhaj Salaf edisi 10/Tahun I tgl 14 November 2003, penulis Ustadz Muhammad Umar As Sewed, judul asli "Wajibnya Mengamalkan Sunnah".)

Sumber: Ebook compiled by Akhukum Fillah La Adri At Tilmidz

Sunnah Merupakan Penjelasan Al-Qur’an

Yang demikian karena sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam merupakan penjelasan dari Al-Qur’an. Allah turunkan al-Qur’an ini agar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menerangkannya kepada manusia sebagaimana Allah sebutkan dalam surat an-Nahl:

Artinya: "Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka berpikir." (QS.an-Nahl:44)

Dan juga dalam ayat lainnya:

Artinya: "Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Qur’an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman." (QS.an-Nahl:64)

Jadi, jika kita diperintahkan untuk berpegang teguh dengan al-Qur’an, tentunya diperintahkan pula untuk berpegang dengan penjelasannya yaitu sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

"Sesungguhnya aku diberi al-Kitab dan yang semisal dengannya." (HR.Imam Ahmad, Abu Dawud dan Hakim dengan sanad yang shahih)

(Dikutip dari Bulletin Dakwah Manhaj Salaf edisi 10/Tahun I tgl 14 November 2003, penulis Ustadz Muhammad Umar As Sewed, judul asli "Wajibnya Mengamalkan Sunnah".)

Sumber: Ebook compiled by Akhukum Fillah La Adri At Tilmidz

Hukum Bagi Para Penolak Sunnah

Oleh karena itu barangsiapa yang menolak sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam berarti dia menolak perintah-perintah Allah di atas dan akan terkena ancaman-ancaman tersebut.

Para ulama menganggap para pengingkar-pengingkar sunnah sebagai seorang yang kafir dan murtad, telah keluar dari ikatan keislaman. Hukum bagi mereka dalam pemerintahan Islam adalah diminta taubat selama tiga hari, jika tidak mau bertaubat maka dipenggal lehernya.

Perhatikanlah ucapan salah seorang ulama yaitu Imam Suyuthi: “Ketahuilah semoga Allah merahmati kalian, barangsiapa mengingkari hadits-hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan (dengan syarat-syarat yang sudah ma’ruf) sebagai hujjah, maka dia telah kafir, keluar dari keislaman dan digabungkan bersama Yahudi dan Nashrani atau orang-orang yang Allah kehendaki dari kelompok-kelompok orang kafir." (Miftahul Jannah fil Ihtijaj bis Sunnah, Lihat Wujub Amal Bissunnah, Syaikh Bin Baz, hal. 28)

Para ulama juga telah memperingatkan kaum muslimin untuk berhati-hati dari ahlul bid’ah seperti mereka. Tidak duduk di majelis mereka, tidak bergaul dengan mereka, tidak mendengarkan ucapan mereka dan tidak berjalan bersamanya. (lihat Aqidatus Salaf Ash-habul Hadits, Abu Utsman Ash-Shabuni; Syarhus Sunnah , al-Barbahari; Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah, Al-Lalikai dan lain-lainnya)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam sudah mengisyaratkan akan munculnya manusia sejenis mereka dalam sabda beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam, ketika beliau mengharamkan beberapa perkara seperti keledai jinak, binatang bertaring dan lain-lain pada perang Khaibar. Kemudian beliau berkata:

"Sebentar lagi akan muncul salah seorang kalian yang mendustakanku, dalam keadaan bersandar ketika disampaikan kepadanya haditsku dia berkata: “Antara kami dan kalian adalah al-Qur'an. Apa yang kita dapati di dalamnya halal, kita halalkan. Dan apa yang kita dapati di dalamnya haram, kita haramkan.” Ketahuilah sesungguhnya apa yang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam haramkan seperti apa yang Allah haramkan." (HSR. Hakim, Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan sanad yang shahih) (Lihat wujubul amal bissunnah, Syaikh bin Baaz, hal. 14)

Dikatakan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam mengharamkan seperti Allah mengharamkan karena beliau adalah utusan Allah yang Allah perintahkan kepada manusia untuk mentaatinya. Maka perintah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam merupakan perintah Allah dan larangannya merupakan larangan Allah.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

"Barangsiapa yang taat kepadaku, berarti dia taat kepada Allah. Dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, berarti dia bermaksiat kepada Allah" (HR. Bukhari Muslim)

Perlu diketahui bahwa barisan para pengingkar sunnah ada berbagai macam jenisnya. Ada yang mengingkarinya secara keseluruhan dan menamakan dirinya Qur’aniyyun (Golongan Qur’an), tetapi lebih dikenal dengan Ingkarus Sunnah (Golongan pengingkar Sunnah), karena memang tidak pantas disebut golongan al- Qur’an. Kelompok ini telah dikafirkan oleh para ulama.

Ada pula yang mengingkarinya tidak secara keseluruhan. Mereka beranggapan bahwa hal-hal yang haram hanyalah dalam al-Qur'an. Demikian pula hal-hal yang wajib hanya apa yang diperintahkan oleh Allah. Adapun kalau Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam melarang, maka bukanlah haram tetapi makruh saja; dan kalau Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam memerintahkan sesuatu, maka hal itu bukan wajib, tapi anjuran saja.

Pendapat seperti ini banyak beredar di kalangan masyarakat kaum muslimin. Padahal konsekwensi dari pendapat ini sangat mengerikan. Mereka akan menghalalkan binatang bertaring seperti kucing dan anjing dengan dalih karena tidak terdapat dalam al-Qur'an. Mereka juga akan mengatakan bahwa shalat tidak harus seperti yang biasa kita lakukan, tapi cukup dilakukan pada pagi dan petang sebagaimana dalam al-Qur'an, karena rincian tata cara shalat hanya ucapan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam yang menurut mereka tidak wajib. Demikian pula emas dan sutera tidak haram bagi laki-laki, namun hanya makruh saja dan pendapat-pendapat yang menyimpang lainnya.

Untuk mereka ini kita ingatkan bahwa hukum asal dari perintah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam adalah wajib, kecuali jika ada dalil lain yang menurunkannya menjadi mustahab (anjuran). Sebaliknya hukum asal dari larangan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam adalah haram, kecuali ada dalil lain yang menurunkannya menjadi makruh. Inilah kaidah ushul fiqh yang dipahami dan diikuti oleh para ulama sejak salafus shalih.

Ada pula jenis pengingkar sunnah yang menolak sebagian sunnah dan menerima sebagiannya. Yaitu para ashhabur ra'yi (rasionalis) yang menolak semua hadits- hadits yang menurut mereka bertentangan dengan akal. Kelompok inipun tidak kalah sesatnya, ia termasuk para penerus kesesatan mu’tazilah yang mendahulukan akal di atas dalil al-Qur’an dan as-Sunnah.

Wallahu a’lam.

(Dikutip dari Bulletin Dakwah Manhaj Salaf edisi 10/Tahun I tgl 14 November 2003, penulis Ustadz Muhammad Umar As Sewed, judul asli "Wajibnya Mengamalkan Sunnah".)

Sumber: Ebook compiled by Akhukum Fillah La Adri At Tilmidz

Keharusan Mengagungkan Sunnah

Dari sinilah perlunya seorang muslim dan para da’i untuk senantiasa mengamalkan dan menyebarkan sunnah-sunnah RasulNya di kalangan umat Islam. Sudah selayaknya pula mereka mempunyai tanggung jawab untuk memahamkan umatnya dari keterkikisan pemahaman dan pengamalan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam yang makin memprihatinkan.

Hal itu perlu agar umat mengenal kembali dan mengamalkan ajaran-ajaran yang telah datang kepada mereka. Karena pada hakekatnya Islam adalah sunnah, sunnah adalah Islam dan tidak akan tegak salah satunya kecuali dengan menegakkan yang lainnya, sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Barbahari dalam Syarhu Sunnahnya.

Sunnah harus kembali ditegakkan dan diagungkan di tengah-tengah umat, hingga mereka akhirnya akan menjadikan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi kecintaan kepada siapapun. Karena tidaklah sempurna iman seseorang, hingga ia mencintai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam melebihi kecintaan terhadap siapapun. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘laihi wassalam:

"Tidaklah beriman seseorang di antara kalian, hingga aku lebih dicintai olehnya dari pada bapak-bapaknya, anak-anaknya dan manusia keseluruhannya." (Muttafaq ‘alaihi)

Wujud kecintaan terhadap Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam adalah dengan mentaati seluruh perintah-perintahnya dan menjauhi seluruh larangan-larangannya.

Sehingga seseorang yang benar-benar mencintai Rasulllah Shalallahu ‘alaihi wassalam adalah mereka yang taat kepadanya. Demikian pula sebaliknya, jika seseorang mengaku mencintai Rasullah Shalallahu ‘alaihi wassalam akan tetapi tidak mentaati beliau, maka pengakuan ini adalah pengakuan yang dusta.

Allah telah mengutus Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam kepada manusia agar menjelaskan apa-apa yang turun kepada mereka (berupa wahyu) dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Memberikan petunjuk kepada mereka ke jalan yang lurus. Oleh karena itu wajib bagi seluruh manusia untuk mencintai beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam dan mentaatinya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian." (QS.an-Nisa’:59)

Ketaatan terhadap sunah atau ajaran Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam merupakan salah satu tonggak ajaran Islam. Barangsiapa yang telah mengikrarkan dua kalimat syahadat, maka wajib baginya untuk senantiasa mentaati seluruh ajaran yang telah diberikan beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam kepada umatnya dan menjauhi seluruh larangannya. Allah menegaskan perintah ini pada ayat-Nya yang mulia:

Artinya: "Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." (QS.al-Hasyr:7)

Ketaatan kepada Allah dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam adalah bersifat mutlak. Hal ini berbeda dengan ketaatan terhadap ulil amri atau yang lainnya. Kita mentaati mereka, jika ketaatan tersebut tidak keluar dari ketaatan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu jika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam telah memerintahkan sesuatu, maka tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali melaksanakan perintahnya. Demikian pula jika beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam melarang sesuatu, maka wajib bagi kita untuk meninggalkannya.

Allah Tabaroka wata’ala berfirman :

Artinya: "Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata."(QS.al-Ahzab:36)

Demikian pula haram hukumnya bagi kita mendahulukan perkataan, pendapat atau pemikiran seseorang –siapapun dia - di atas perkataan dan perintah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam Bahkan mengeraskan suara di atas suara Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam pun merupakan perbuatan terlarang. Allah tegaskan hal ini dalam firman-Nya:

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan RasulNya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS.al-Hujuraat:1)

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian melebihi suara Nabi, dan janganlah kalian berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kalian terhadap sebagian yang lain, supaya tidak terhapus (pahala) amalan kalian , sedangkan kalian tidak menyadari." (QS.al- Hujuraat:2)

Jawaban bagi seorang mukmin tatkala telah datang kepadanya perintah dan larangan RasulNya adalah “Kami mendengar dan taat”, sebagaimana Allah telah menerangkan dalam firman-Nya:

Artinya: "Rasul telah beriman kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Rabb-Nya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul- rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami ta'at." (Mereka berdo'a): "Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali." (QS.al-Baqarah:285)

(Dikutip dari Bulletin Dakwah Manhaj Salaf edisi 11/Tahun I tgl 14 November 2003, penulis Ustadz Muhammad Umar As Sewed, judul asli "Wajibnya Mengamalkan Sunnah".)

Sumber: Ebook compiled by Akhukum Fillah La Adri At Tilmidz